In Way

YITA LEFT NIDUN NANGIS

Kisah Romansa Teranyar (1)

Membuat tulisan mungkin bagi Atuk sudah agak biasa, tapi menulis cerpen? Tak banyak karya Atuk, bisa dihitung dengan jari. Menulis cerpen itu sulit, apalagi jika disambung dengan beberapa episode sehingga jadi cerbung, so pasti akan makin repot. Harus mempunyai kerangka cerita terlebih dahulu, kemudian khayalkan jalan cerita. Sulit kan? Tapi bukan berarti Atuk nggak mau bikin cerpen, agar tak banyak berkhayal maka permulaannya nyontek aja dari cerita yang sudah ada, kemudian kita tinggal mikirin pembahasan serta kesimpulan dan sarannya saja, selesai sudah. Kali ini kita sedikit nyontek dari karya besar Hamka dalam buku “Kapal Van Der Wijck Dah Tenggelam”.

Tokoh yang terlibat bernama Zainidun dan Hayita. Kedua pasangan ini dalam versi aslinya bernasib apes, nggak jadi kawin, pokoknya kisah cinta mereka sedih dih dih sekali. Zainidun ditolak oleh Ninik Mamak, kemudian yang nggak enak Hayita yang pada awalnya setuju-setuju aja menjatuhkan cintanya ke Zainidun, belakangan memungkiri. “Emangnya siapa elo Nidun? Gue nih dapet gebetan lebih kaya dan lebih ganteng. Orang terpandang, yang disetujui oleh Ninik Mamak”. Jadi asyiikan? Kalau ama Nidun, mungkin Yita hidupnya akan merana. Nggak bakalan bisa beli iPhone 12, apalagi beli sepeda Brompton. Jamin deh, bukan kelasnya Nidun.

Nidun tak menyangka akan kelakuan Yita, secepat itu dia berubah, terpesona oleh harta, sementara Nidun merasa minder karena dia tidak berpunya. Kemampuan Nidun sangat terbatas, paling banter dia hanya bisa membelikan saputangan, makan di lapau Nyiak Leman, dan sesekali ngirim pulsa. Tapi segitupun dia tidak menyangka, sungguh tega Yita menyakiti hatinya. Kemanakah kisah cinta kita yang mesra dahulu? Demikian keluh Nidun, sakit hati berulam jantung. Airmatanya selalu jatuh berderai mengenang keputusan Yita, mengenang ketegaan Yita, menyesali hidupnya yang miskin, menyesali ketidak beruntungannya.

Sebenarnya malam itu Nidun ingin menangis lebih keras meraung-raung, berharap semakin keras tangisnya semakin terdengar oleh Yita, dan berharap pula Yita menjadi iba, lalu kembali padanya. Namun apa daya, baru saja dia akan memperbesar volume tangisnya, teman sekamar dia di rumah kos itu telah melempar guling ke kepala Nidun. “Brisik katanya, nangis di luar sono, gue mau tidur nih”. Nidun mengecilkan volume tangisannya, setelah kepalanya kejedug dinding akibat lemparan guling. Nasib ya nasib, si Nidun bertambah sedih kemana badan kan mengadu. Hati patah, pala kejedug.

Waktu memang sering mengubah segalanya, dari sayang berubah benci, dari suka berubah muak. Haruskah daku menangisi ini semua? Demikian akal sehat Nidun mulai bekerja. Aku akan pergi dari kampung ini, merantau, meninggalkan segala suka segala duka. Aku tak suka gadis Minang, siapa tau di rantau bertemu gadis Jawa, gadis Sunda atau gadis Batak atau siapalah, tak peduli. Aku tak mau nikah dengan gadis Minang, cukuplah pengalaman ini pertama dan terakhir. Tekad Nidun semakin kuat, dia ingin merantau sekalian mencari jodoh. Kalau aku kaya nanti, akan kucari dikau Yita, akan kupamerkan kekayaanku padamu dan kuperlihatkan juga betapa cantiknya isteriku.

Tiba-tiba sebuah bantal lagi menerpa “jeduuuur” kepalanya kembali singgah di dinding kamar. Dan dari jarak satu meter temannya berteriak: “Lu nggigau melulu, reseh, ribut tau, gue jadi nggak tidur-tidur. Udah pergi sono, kalau mau merantau, gih malam ini juga”. Nidun terpana-pana, tak menyangka akan dapat serangan mendadak untuk yang kedua kalinya. Dia membatin, kok nggak ada yang berempati kepadaku ya? Apa salah dan dosaku? Hiks hiks dan hiks, ceritanya Nidun akan menangis keras lagi, tapi dia sungguh takut ntar temannya bakalan benar-benar ngamuk.

Akhirnya Nidun memilih untuk diam, melupakan segala masalahnya. Tuhkan nggak sampe 5 menit Nidun juga udah ngorok, makanya enjoy ajalah Nidun. Esokan masih ada, ingat lagu Uta Likumahuwa kan? Esokan masih ada ….. Jangan terlalu ditangisi dan jangan terlalu dipikirkan, semua masalah yang ada pasti kan berlalu jua. Mendengkurlah dikau Nidun, tidurlah dan rasakan nikmatnya bantal, pasti lebih nyaman daripada guling yang sempat singgah di kepalamu. ……. bersambung ……..

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button