In Way

YITA LEFT NIDUN NANGIS (3)

Kisah Romansa Teranyar (3)

Tahukah pembaca dimana Nidun sekarang? Beliau berada di Bumi Etam, tepatnya di kota Samarinda. Seorang pegawai BCI alias Bank Central Indonesia telah membawanya dari Sibolga ke Samarinda, Nidun dengan kepatahatiannya setuju saja kemana di bawa. Baru kali itu dia naik pesawat, sekali naik langsung melakukan perjalanan panjang. Dari Pinang Sori, Sibolga ke Bandara Soeta, Banten. Kemudian dari Soeta ke Bandara Sepinggan, Balikpapan. Nama bandara terakhir menimbulkan pesona tersendiri bagi Nidun, menurut Nidun orang sini pasti baik-baik, punya harmonisasi dan toleransi yang baik.

Sepinggan atau satu piring, jika dipakai buat makan bersama jelas tak mudah, karena tak ada garis demarkasi yang jelas antara pemilik tangan yang satu dengan pemilik tangan yang lain. Bahkan tangan masing-masing pemilik bisa saja menyeberang agak jauh, asalkan masih dalam piring itu juga. Sungguh kejadian Sepinggan ini merupakan pengejawantahan toleransi yang luar biasa. Dari Sepinggan Nidun menempuh perjalanan darat ke Samarinda, di tengah perjalanan berhenti pada sebuah rest area bernama Tahu Sumedang. Rehat sejenak bersama Pak Bos dari BCI, sembari menikmati Tahu Sumedang, mie instan dan tak lupa ditemani secangkir kopi panas.

“Pak BCI”, Nidun memberanikan diri bertanya: “apakah kita masih berada di daerah Jawa?” “Lo kenapa Nidun?” Pak BCI balik bertanya. “Waktu pelajaran peta buta dulu, disebutkan Sumedang berada di Jawa Barat”. Suasana hening sejenak, Pak BCI yang mulai kelelahan dalam perjalanan panjang lagi males diskusi, apalagi untuk menjelaskan sesuatu. Dia hanya berucap: “Ah nanti kau akan tau sendiri Nidun”. Nidun tau diri, dia langsung diam sampai perjalanan dilanjutkan. Kota Samarinda kian dekat, Samarinda Seberang sudah terlampaui. Kali ini mobil melintas jembatan Mahakam. Jembatan ini sangat panjang karena Sungai Mahakam sangat lebar. Ada kapal kayu, kapal barang dan kapal batubara yang setiap hari hilir mudik di sungai ini.

Kapal-kapal itu sangat besar, Nidun heran kapal harusnya di laut, kenapa ya ada di sungai? Ingin nanya ke Pak BCI takut “diseneni”, tapi dia sudah tak tahan akhirnya bertanya juga: “Pak, ini laut atau sungai?” Tanya tak berjawab Pak BCI diam aja, kembali Nidun diam, penasaran dan rasa ingin taunya membuncah di dada. Dalam observasi Nidun yang paling banyak lalu lalang di sepanjang sungai adalah kapal hitam pengangkut batu bara. Tiba-tiba Zainidun teringat kampung halamannya, dulu di Sawahlunto ada juga tambang batubara. Diangkut bukan pakai kapal, tetapi pakai kereta api. Tambang itu sudah lama sekali, hanya saja sebutan kereta api pada waktu itu atau pada zaman Zainudin dan Hayati (awas jangan gagal fokus, tokoh kita zaman now Zainidun dan Hayita) adalah “Mak Itam”.

Mungkin akan banyak pertanyaan tentang kehidupan Nidun di Bumi Etam, antara lain sukseskah dia? Siapakah kekasih hatinya? Bagaimana hubungannya dengan Hayita? Dan lain sebagainya. Baik, kita mulai saja babak baru ini. Sebuah bank terkenal di Kaltim pada waktu itu bernama Bank BDD, yaitu sebuah Bank Development Daerah sedang membuka lowongan cukup besar untuk pegawai pemula, clerk atau sejenis pekerjaan pendukung. Pak BCI memberitahukan lowongan kerja itu ke Nidun, hati Nidun berbunga-bunga dan surat lamaranpun telah dikirim ke BDD oleh Nidun. Sesungguhnya Nidun sama sekali tidak mengerti dunia perbankan yang dia tahu karir awalnya hanya sebagai pedagang kaki lima, kemudian alih profesi jadi nelayan, sekarang mengadu nasib agar diterima menjadi pegawai bank.

Esok sebelum wawancara Nidun melapor ke Pak BCI, tentang cara menghadapi wawancara yang seumur hidup tak pernah dijalaninya. Seperti biasa, tak ada pengarahan panjang lebar dari Pak BCI beliau hanya berkata: “hadapi dengan tenang dan jujurlah dalam menjawab”. Haaaaa? Kenapa untuk hal sepenting ini Pak BCI masih pelit ngomong? Tak berempatikah beliau dengan masa depanku? Nidun mengusap dada, ditunggunya pengarahan lebih lanjut, tetap tak ada. Malam kian larut, Pak BCI telah terlelap tidur dan Nidun pulang ke kosannya dengan wajah lesu, langkah gontai, dibenaknya banyak pertanyaan menari-nari.

Rasa percaya dirinya menurun, akankah dia membatalkan wawancara? Trus kalau mundur, bukankah ini sama saja dengan membuang kesempatan? Bukankah dia ingin mengubah nasib? Ingin terlihat kaya di mata Hayita, ingin punya isteri cantik untuk dipamerkan ke Hayita. Trus, wanita cantik mana yang mau bersanding dengannya jika di rantau masih tetap jadi pedagang kaki lima? Oh tidak, ini tidak boleh terjadi. Besok panggilan wawancara dari BDD akan kupenuhi, demikian Nidun bertekad. Kesempatan takkan datang dua kali, oh my God help me. Aku harus sukses ses ses dan ses.

Tibalah saatnya wawancara, Saudara Zainidun dipanggil ke ruang direksi. Nidun kedinginan ruangan itu full AC, wajah bapak-bapak direksi berjas dasi itu telah membuatnya minder duluan. Berbagai pertanyaan telah meluncur bak mitraliur.

Direksi: “apa motivasi Saudara ingin bekerja di BDD?”Nidun: “ingin mengubah nasib pak”Direksi: “memangnya ada apa dengan nasib anda selama ini?”Nidun: “a a anu Pak, menyedihkan karena ditinggal pacar”Direksi: “apa kaitannya dengan keinginan bekerja di BDD?”Nidun: “agar bisa banyak uang Pak, jadi pedagang kecil suka dikejar-kejar satpol PP, penghasilan kecil tak menentu”Direksi: “tadi dikatakan ditinggal pacar, lalu dikejar satpol PP. Bisa dijelaskan maksudnya?”Nidun: “jika aku kerja di bank maka duit akan datang, masa depanpun cemerlang, lalu Hayati akan menyesal telah mencampakan daku”

Tiba-tiba saja Nidun menjadi jujur sejujur-jujurnya, sesuai nasehat Pak BCI tadi malam. Semua isi hatinya telah keluar dalam wawancara itu. Sekarang hatinya plong, selanjutnya tinggal menunggu nasib. Usai wawancara direksinya yang kebingungan, karena salah satu anggota direksi seiring dengan keluarnya Nidun dari ruang wawancara, air matanya menetes. Pengalamannya hampir sama dengan Nidun, udahlah miskin dihina pacar pula. Kemudian dia berkata: “udah Nidun dilulusin aja”.

Rekan-rekan anggota direksi yang lain kaget dan menyela: “bukankah Nidun hanya tamatan SLTA, dan bukankah pelamar yang lain banyak yang lebih pantas karena bergelar Sarjana Muda?” Tapi direksi yang sesungukan tadi tetap keukeuh dan berkata: “banyak pelamar yang jawabannya klise, kadang terkesan teoritis dan sekedar hapalan, sedangkan Nidun menjawab apa adanya, penuh kejujuran”. Akhirnya semua tim pewawancara sepakat, Nidun lulus karena jujur. Maka sampailah berita ini kepada Nidun dia lulus, dia telah lulus ujian. Hore dia sekarang pegawai bank, hatinya riang tak terperi, tak menyangka.

Hore hore dia bergembira, di kamar di rumah kosnya dia masih saja ribut hore, hore dan hore. Sampai peristiwa lama malam itu terulang kembali, teman kosnya melempar guling, kepalanya berbenturan dengan dinding kamar. Temannya berteriak: “ribut aja, tidur sono, ganggu aja”. Nidun terkaget, terdiam tak bersuara di atas kasur. Kepalanya ditutup bantal, suasana kamar menjadi hening. Tak lama kemudian, kurang lebih 5 menit Nidun udah terlelap pulas sambil mendengkur. Zzzzzzzzzz

……. bersambung …….

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button