In Way

YITA LEFT NIDUN NANGIS (2)

Kisah Romansa Teranyar (2)

Singkat cerita Zainidun pergi merantau sembari membawa kepatahatiannya, saat itu siang tak lagi benderang. Langit gelap mendung, segelap hati Nidun yang nyaris kalap. Mendungpun berganti gerimis, semendung hatinya yang ingin menangis. Gerimispun berubah menjadi hujan lebat, senestapa mulutnya yang tercekat. Akhirnya lebatpun berhenti, seolah menyilahkan Nidun pergi dan Nidunpun pergi dibawa kakinya melangkah. Kemana kaki Nidun melangkah? Ke Teluk Bayur? Wah tak ada lagi kapal disitu, itu kan zaman Ernie Djohan. Ke Bandara Tabing? Nggak bakalan kuat bayar tiket pesawat. Ternyata nggak gampang juga buat merantau, kecuali lewat tranportasi darat bisa lebih murah. Dengan demikian Nidun harus melangkahkan kakinya ke Terminal Bus Lintas Andalas.

Sesampainya Nidun di Terminal Lintas Andalas, dia menyaksikan banyak kendaraan dengan tujuan antar propinsi, dan pilihannya naik mobil ALS menuju Medan. Mengingat Nidun sudah antipati dengan gadis Minang, maka sepanjang jalan di atas bus dia terus memprovokasi serta memberikan sugesti terhadap pikirannya sendiri. Dalam hati berulang-ulang diucapkannya boru batak, boru batak, boru batak, demikian seterusnya sampai dia tertidur. Masalah muncul karena Nidun terlalu menghayati sugestinya sehingga berubah jadi igauan. Ketika terbangunpun setengah sadar dia masih berucap pada seorang penumpang wanita: “boru batak, kamu cakep deh”. Dimulutnya boru batak, namun dalam bayangannya Hayita, maka wanita itu dipeluknya. Kemudian “braaaaak” kepala Nidun kena bogem mentah dari suami wanita tersebut.

Terjadi keributan di atas bus, semua mata memandang ke Zainidun karena wanita tadi berteriak histeris kena pelukan Nidun. Tak ayal Nidun dimaki penumpang satu bus, diturunkan di Sibolga. Hanya sampai Sibolga, tak jadi merantau ke Deli eh Medan. Perjalanan ke Medan masih jauh, akhirnya Nidun memutuskan kalau ganti bus khawatir kembali ada masalah, sampai sekarang kepalanya masih berdenyut-denyut bekas kena bogem mentah, jadi putusan Nidun adalah merantaunya cukup sampai di Sibolga saja. Di Sibolga banyak pantai sehingga sebagian penduduknya melaut jadi nelayan. Nidun melihat ada harapan disini, di Padang dia tinggal juga di dekat pantai dan Nidun juga suka mendendangkan: “nenek moyangku orang pelaut”. Klop, karir baru Nidun adalah menjadi nelayan di Sibolga.

Nidun ternyata betah di Sibolga, melaut setiap hari adalah rutinitas anak muda yang patah hati ini. Di Sibolga pula dia bertambah semangat membanting tulang (benar nggak sih? Apakah orang Batak nggak marah tulangnya di banting?) soalnya setiap pagi melewati sungai pulang melaut, dia menemukan seorang gadis cantik sedang menyapu halaman di sebuah rumah. Gadis ini mirip Hayita, kekasihnya yang ingkar janji. Kulitnya kuning langsat, giginya putih popseden, dan matanya biru awan. Semoga darahnya tidak biru, kalau keturunan bangsawan Nidun merasa tak selevel, khawatir jadi bahan hinaan lagi. Cukuplah peristiwa pahit dengan Hayita terjadi hanya sekali, takan mungkin pisang berbuah dua kali.

Suatu kali dia memberanikan diri menghampiri rumah sang gadis, di tepi sungai itu perahunya sudah ditambatkan. Hatinya berbunga-bunga, ingin segera ditambatkan kepada gadis yang berumah di pinggir sungai ini. Nidun sangat optimis pedekatenya bakalan sukses, dia datang bukan ujug-ujug. Berdasarkan observasinya setiap pagi kala menebar senyum kepada gadis penyapu halaman itu, senyumannya selalu dibalas. Kali ini Nidun sengaja datang lebih awal, sebelum gadis bersapu lidi itu beraksi di halaman. Nidun ingin memberi kejutan kepada sang buah hati, dia berdiri di belakang rumah persisnya dekat dapur, menanti boru Nasution keluar rumah.

Pelan tetapi pasti Nidun mendengar ada yang lagi berbicara di dapur, Nidun penasaran dia ingin lebih dekat lagi, telinganya menempel di dinding dapur. Di duga kedua orang tua gadis bersapu lidi yang konon mirip dengan Hayita itu sedang terlibat dalam pembicaraan serius. Maknya si Gadis berkata: “bilo Uda ka pulang? Kalau bisa dipacapek sajo, bia si Hayati tau pulo jo kampuang halamannyo di Sungayang”. Si Bapak menjawab: “mungkin dalam minggu iko diak, salamo kami di kampuang, lapau bukak taruih yo diak”. Mendengar percakapan itu, jantung Nidun berdetak kencang, dia nervous. Ingin berlari sekencang-kencangnya, pembicaraan yang dia dengar tadi telah melukai perasaannya, mengungkit luka lama.

Baru lari beberapa puluh langkah Nidun tersadar, perahunya tertambat. Nidun balik lagi, tambatan perahu secepatnya ingin dilepas, secepat dia ingin melepaskan tambatan hatinya pada gadis bersapu lidi. Kali ini Nidun bukan berlari dengan langkah seribu, dia mengayuh dengan kayuh seribu. Lebih cepat malah, karena dengan sekali kayuh dua tiga pulau terlampau dan dua tiga pula masalah dilampau. Pengennya sih, tapi gimana pula caranya masalah terlampau. Coba bayangkan, nama si gadis Hayati yang mirip dengan Hayita serta kampungnya di Sungayang di ranah Minang telah membangkitkan luka lama.

Bukankah Nidun telah bertekad tak ingin berjodoh dengan orang Padang? Lalu setelah sejauh ini merantau kenapa ketemu lagi dengan orang sekampungnya? Sempit kalilah dunia ini, sambil mengayuh Nidun berteriak: “tidaaaaaaaaak”. Kemudian tatapannya berubah kosong, mulutnya membisu dan tangannya tak lagi mengayuh. Pemandangan pagi itu di sungai, sebuah perahu diam tak bergerak kecuali hanya sekedar gerakan ringan akibat hembusan angin dan riak kecil di sungai yang menjadi lalu lintas nelayan untuk pulang pergi ke laut. Di atas perahu duduk seorang pemuda bengong dengan tatapan hampa.

…… bersambung ……

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button