In Way

WFH yang Melenakan

Androecia Darwis, Penulis Kolom "In Way"

Apiknews.com, In Way – Usia si Ibu mendekati 58 tahun, sudah mau pensiun. Di kantor paling rajin dan tidak suka merayap kemana-mana, kalau dicari di ruangannya ya seharian di situ saja. Tekun dan jarang mampir ke ruang sebelah, apalagi hanya untuk sekedar hahahehe dengan rekan sekantor. Rutinitas berjalan sebagaimana biasa dan sampai saat si Covid datang, semua cerita mulai berubah. Ke kantor cukup 1 kali dalam seminggu atau terkadang 2 kali.

Si Covid ini biasa digandeng dengan angka 19, beda dengan Dewa 19. Jika Dewa 19 membuat orang terhibur, maka Covid selain membuat orang ngelantur, juga membuat sebagian besar pegawai libur. Kerja cukup dari rumah yang penting cicing di imah atau dikenal dengan istilah WFH, Work From Heart. Apa? Salah ya? Baik maap Kang, maksudnya Work From Home.

Work frome home ini kedengarannya keren, kerja dari rumah, absen dari rumah, koordinasi sekaligus virtual meeting dari rumah. Tapi tahukah kita bahwa dalam pikiran ibu-ibu segala macam yang dari rumah itu disebut dengan WFH? Bagi kaum ibu WFH itu termasuk mencuci kain, momong cucu, menyapu lantai, jemur pakaian dan “ngusilin” ART di dapur, dengan demikian otomatis suasana rutinitas kantor hilang.

Tiap hari cenderung berasa libur, tiap hari berasa seolah Sabtu dan Minggu, akibatnya sering lupa untuk mengisi absen secara online. WFH telah melenakan, terlupa waktu. Sudah sama-sama diketahui bahwa selaku pegawai mengisi absen itu aturannya wajib, namun entah untuk yang keberapa kali, nyatanya si Ibu hari ini tetap lupa mengisi absen.

Untuk mengisi absen tak jarang teringatnyapun sudah malam, di saat kantor sudah tutup dan pengisian onlinepun telah lama senyap. Ini artinya gajian bulan depan, potongan absen kian besar. Faktor U, punya pengaruh besar. Sebenarnya ketika si Covid datang dengan membawa dampak terjadinya perubahan situasi, mungkin agak membingungkan si Ibu.

Pada umumnya kalau anak masuk sekolah, ya absen di sekolah. Karyawan masuk kantor, absennya di kantor. Itulah yang terjadi selama bertahun-tahun. Nah uniknya sekarang untuk urusan kantor absennya kok di rumah? Ya wajarlah banyak ibu-ibu yang lupa mengisi absen. Di rumah kalau nggak ngurus anak-anak dan bapaknya anak-anak, ya so pasti urusan dapur, urusan kebersihan dan tetek bengek lainnya.

Jadi? Soal lupa absen sudahlah Bu, sebentar lagi juga pensiun kok, meski akhirnya tak tercatat sebagai pegawai paling rajin, tak usah sedih. Biarlah kalau ada “piala pegawai paling rajin”, diambil pegawai lain. Relakan saja apa yang sudah terjadi, biarlah yang lalu tetap berlalu. Gaji dipotong? Ya anggap saja latihan menjelang pensiun, toh kalau sudah pensiun nanti gaji juga bakalan menurun drastis. Semua ada masanya, semua ada saatnya. (Adc, Bogor 20.11.20)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button