HeadlineMetropolis

Tidak Sesuai Kesepakatan, Kontraktor Gugat Pemilik Rumah Senilai Rp 1,5 M

Apiknews.com, Bontang – Kontraktor yang menangani perumahan di Jalan Kol 15,16 dan 17, Kelurahan Gunung Elai menggugat pemilik rumah senilai Rp 1,5 miliar ke Pengadilan Negeri (PN) Bontang dengan nomor perkara 15/Pdt.G/2020/PN Bon.

Kontraktor bangunan Supryadi menduga, pihak developer telah menyalahi kesepakatan yang telah dibuat bersama sehingga menimbulkan kerugian materil Rp 400 juta dan imateril Rp 1,4 miliar.

“Pada kesepakatan tersebut, telah disepakati yaitu pembangunan rumah dengan tipe 54. Namun, di tengah perjalanan tiba-tiba saja mereka mengubah ukuran tersebut menjadi tipe 60 dan 75,” ujarnya kepada awak media, Senin (21/09/2020).

Supryadi menyebutkan, usai perubahan tersebut disepakati melalui negosiasi yang panjang, ternyata kembali menimbulkan masalah. Yakni, setelah pembangunan selesai, diduga pihak developer tidak menaikkan harga, padahal speknya tidak sesuai pengajuan.

“Ya logika saja, masa tipe 54 disamakan dengan tipe 60 atau 75,” kata Supryadi.

Diketahui, kawasan yang menjadi titik pembangunan tersebut rencana dibangun enam rumah dengan anggaran Rp 1,5 miliar tipe 54. Dengan ukuran yang berubah, anggaran pun membengkak menjadi Rp 1,7 miliar.

Foto: Jumardi Salam

Selain itu, kerugian materi menurut ia, kembali terjadi. Hal ini terungkap setelah pihak kontraktor mendapatkan denda senilai Rp 40 juta dikarenakan molor 40 hari dari kesepakatan yang dibuat.

“Gimana gak molor, waktu pengerjaan saja masa mau disamakan dengan tipe 54. Maka, kami meminta waktu tambahan dan itu disepakati. Akan tetapi, kembali menjadi masalah, sebab tukang kami tidak diizinkan untuk lembur sehingga pekerjaan jadi molor 40 hari,” ungkapnya.

Saat ditanya terkait apakah ada kontrak baru setelah kontrak lama mengalami perubahan, Supryadi menjelaskan tidak ada karena bermodal kepercayaan.

“Kami percaya dengan pemilik rumah. Itulah sebabnya tidak ada hitam di atas putih. Tetapi kok jadi gini ya, maka kami mencoba menempuh jalur hukum,” imbuhnya.

Sementara itu, Humas PN Parlin Mangatas Bona Tua mengatakan, perkara wanprestasi tersebut telah berlangsung cukup lama. Hari ini, adalah pemeriksaan setempat dan bukti saksi dari penggugat.

“Sudah berkali-kali sidang. Pertama tanggal 25 Juni 2020, pihak tergugat tidak hadir. Nah, 9 Juli 2020 semuanya hadir, makanya kita coba mediasi namun tidak berhasil. Perkara inipun dilanjutkan ke persidangan pada Agustus ini. Berlanjut hingga sekarang dengan mendatangkan saksi penggugat sebanyak 7 orang,” tuturnya.

“Jadi ini belum finish, kita masih menunggu tergugat mengajukan saksi maksimal 2 kali. Sedangkan untuk putusan belum bisa berkomentar karena masih proses kecuali sudah final,” pungkasnya. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button