In Way

Perintah Mulia untuk Fahsari S.

Androecia Darwis, Penulis Kolom "In Way"

Apiknews.com, In Way – Situasinya benar-benar mencekam, di hadapan prajurit itu sebuah bom akan meledak jika tak berhasil dijinakan. Apalah daya nun jauh di pulau terluar satu pleton prajurit terjebak, tak ada penjinak bom. Satu-satunya petunjuk yang ada datang melalui telpon dari bosnya sekaligus penjinak bom di seberang pulau. Seluruh tubuh si prajurit basah oleh keringat, wajahnya memelas. Sampai sejauh ini semua petunjuk berhasil dilaksanakan, termasuk memotong berbagai jenis kabel.

Sekarang tinggal dua kabel, satu kabel bewarna hijau harus tetap terpasang dan bewarna biru harus digunting. Kekuatan bom sangat dahsyat, bisa menenggelamkan pulau. Waktu berjalan cepat, sang prajurit harus melaksanakan perintah. Di depan matanya warna kabel hanya dua yaitu hijau dan hijau langit (biru), dia membatin, mana ya warna biru? Tak ada lagi waktu buat berpikir, reflek tangannya memotong kabel hijau: “ndan, kabel hijau sudah dipotong, siap terima perintah selanjutnya”. Tanpa pikir panjang melalui telpon itu komandan memberi perintah, ikuti kata-kata saya dan ucapkan: “innalilahi wainna ilaihi rojiun”.

Tak lama selepas itu terdengar suara bergemuruh, sebuah ledakan dahsyat terjadi, gemanya terdengar sampai jauh dan kepulan asap hitam menyesakan dada, debu beterbangan kemana-mana. Dahsyatnya ledakan ini konon melebihi jatuhnya bom atom di Shimahiro dan Sakinaga zaman baheula. Bahkan getaran yang terjadi sampai ke negara-negara jiran. Tak berapa lama berita sudah mendunia, TV Jiran, TV lokal dan TV dunia telah memberitakan peristiwa ini dengan sudut pandang masing-masing.

Peristiwanya sama ceritanya beda, ada yang mengatakan telah terjadi kebakaran hutan, ada yang memberitakan perang saudara karena beda pilihan, ada yang mengatakan gunung meletus, dan ada pula yang memberitakan perang terbuka di laut kepulauan seribu, kemudian kian menjadi liar menjadi kepulauan duaribu, tigaribu dan seterusnya. Kok jadi aneh ya? Cakap orang kita gaul: “banyak kali buzzer dan influencernya”. Makanya kalau bikin berita, kau apakan saja dulu apanya itu agar apanya tak apa-apakali. Sambungannya jadi begini: “eta terangkanlah, eta terangkanlah”.

Jauh dari hiruk pikuk berita, sang komandan penjinak bom melakukan perjalanan ke kampung anak buahnya tercinta yang telah gugur bersama duka. Anak buahnya gugur demi negara, demi masa depan hidupnya dan demi mempersunting Siti Sarifah di kampungnya usai tugas di pulau terluar. Apa daya Fahsari S kekasih tercinta Siti Sarifah ini telah tiada, telah berakhir. Hilang ditelan bumi bersamaan dengan hilangnya sebuah pulau. Di kampung itu barulah sang komandan paham, bahwa ada sesuatu yang unik. Masyarakat kampung tak satupun mengenal warna biru, mereka menyebutnya dengan warna hijau langit.

Lalu apa yang membedakannya dengan warna hijau asli? Jangan bingung, cukup sebutkan hijau daun maka mereka sudah tau bedanya. Namun mengingat sekarang ke”asli”an telah lama hilang, info fitnah bertebaran dimana-mana. Buzzer dan influencer sudah sampai ke kampung-kampung. Dalam peristiwa ledakan bom ini, sang komandan telah dituduh memberikan perintah yang salah sehingga Fahsari S tewas. Cerita bergalau inilah yang menyebabkan komandan ingin segera mengklarifikasi masalah, dengan jalan menemui langsung keluarga dan kekasih hati anak buahnya Fahsari S.

Di kampung itu sang komandan merasa jengkel siapa ya buzzer dan influencer yang berperan mengubah kata biru menjadi hijau langit? Suatu kesalahan yang diulang terus menerus dengan konsisten, pada akhirnya akan mengubah kosa kata yang baru menjadi sebuah kebenaran. Alamak jang, sungguh merusak dan sungguh berbahaya permainan buzzer kali ini. Sepanjang malam Siti Sarifah menangis di hadapan sang komandan, dan sang komandan matanyapun memerah terduduk lunglai bersandar di dinding. Segelas kopi panas tak mampu lagi menghangatkan badannya. (Andro – Bogor, 5 Nov 2020)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button