In Way

Masfud dan Misteri Hilangnya Sebungkus Nasi

Andorecia Darwis, Penulis Kolom "In Way"

Apiknews.com, In Way – Akhirnya tukang antar makanan itu datang juga, Atuk tunggu di luar pagar. Andai tidak ditunggu kadang ada yang nyasar, dan butuh waktu lagi guna menunggu tukang ojek yang salah jalan tersebut untuk kembali ke jalan yang benar. Kali ini si pemotor tak salah jalan, mungkin kehadiran Atuk terbaca oleh dia, seorang lelaki gendut bercelana pendek memakai kaus oblong, atau bisa juga disebut seorang lelaki ubanan dengan handphone di tangan telah siap menanti kiriman pesanannya. Malahan tadinya Atuk yang ragu, karena si pemotor tidak memakai jaket hijau sebagaimana lazimnya yang kita lihat di jalanan.

Kenapa harus ditunggu di depan rumah? Ada banyak alasan, pertama adalah agar tukang ojek dapat petunjuk jalan yang lurus karena antara pertigaan komplek ke rumah Atuk lempeng aja, lurus aja tak usah belok-belok. Kedua adalah agar dia tidak tersesat, kebayangkan menyadarkan orang yang tersesat? Butuh waktu lama. Ketiga atau alasan terakhir adalah lapar berkecamuk sementara Maghrib kan datang, jadi apa susahnya menyediakan sedikit waktu ke luar pagar meskipun capek berdiri. Agar lebih hemat waktu lagi, sebelumnya selembar lima puluh ribuan sudah disiapkan di saku. Di layar telponpun sudah dilihat total biaya empat puluh ribu rupiah.

Ojek datang, sebungkus nasi rames berlauk rendang dan jengkol balado berpindah tangan. Demikian juga dengan selembar lima puluh ribuan langsung berpindah tangan. Atuk mengatakan 40 ribu ya? Ojek menjawab hanya 35 ribu. Wah ada apa ini? Apa Atuk yang salah lihat? Untuk meyakinkan, maka si pemotor melihat ke layar HP, dia tetap keukeuh mengatakan 35 ribu. Uang Atuk dikembalikannya 15 ribu. Waw keren, bukankah ada kemungkinan dia mengiyakan saja ucapan 40 ribu, kalau didiamkan saja lumayan dapat tambahan 5 ribu. Tapi yang terjadi tidak demikian, pengantar go food ini keukeuh di harga 35 ribu. Hebat ….!

Atuk kagumlah sama Mas Food, eh Mas Jek, eh apa ya sebutan buat tukang ojek pengantar makanan ini? Baiknya Mas Food atau di Indonesiakan Masfud ajah ya? Masfud ini jujur, padahal hari gini kejujuran adalah barang langka. Ucapan 35 ribu yang disampaikan Masfud bisa saja dianggap hoax. Anak siapalah Masfud ini kok baik begini ya? Akhirnya karena udah niat ngasih 40 ribu, maka kepada Masfud, Atuk kekeuh kembalian cukup 10 ribu aja. Masfud senang Atukpun senang. Disini senang disana senang, dimana-mana hatiku senang.

Itu kalau giliran senang, beberapa waktu yang lalu ada juga pengalaman kurang senang, kalau senangnya berkurang itu Bahasa Inggrisnya apa ya? Unhappy mungkin. Baik, berikutnya cerita masih di seputar pesanan nasi Padang. Pesan tiga bungkus untuk makan habis Maghrib. Ketika Om Food datang, makanan langsung di bawa masuk ke rumah. Dan saat kantong plastik dibuka ternyata di atas meja hanya ada dua bungkus. Kemanakah gerangan sebungkus lagi?

Harus gerak cepat nih mumpung Omfudnya masih dekat, maka ditelponlah Omfud tersebut guna mempertanyakan kenapa nasi sebungkus lagi ogah bergabung di satu kantong plastik bersama dua temannya yang lain? Apakah sebungkus nasi itu sembunyi di jok motor Omfud? Jawaban Omfud membuat sedih, bungkusan itu tidak ditemukan, ngacir entah kemana. Kalau sudah begini siapa yang harus dicurigai? Warung nasikah atau Omfud? Perkara rumit ini.

Akhirnya didapat kesepakatan Omfud…. aduh. Maaf Atuk kurang konsiten, sesuai dengan kesepakatan semula sebutan ojek pengantar makanan adalah Masfud, bukan Omfud. Maaf sekali lagi yang sudah tertulis biarlah begitu yang penting kita paham antara Omfud dengan Masfud orangnya itu juga. Kita panggil dia dengan sebutan Masfud. Sesampainya Masfud di warung nasi, penjual menelpon Atuk memberikan argumentasi. Dia tak menyangka ini bisa terjadi, jelas-jelas sudah dimasukan ke kantong plastik 3 bungkus. Trus kalau ada yang kabur 1 bungkus, gimana caranya?

Atuk merasa aneh, Masfud merasa aneh dan tukang warung juga merasa aneh. Kecuali ada di antara kami yang bermain di air keruh. Tapi siapa pula yang main di air keruh? Bukankah selama ini Bogor dikenal sebagai kota hujan yang air tanahnya sangat bening. Trus tukang warung mau nuduh Atuk akal-akalan, situasi ini sangat tidak enak. Soal nasi kabur sebungkus “meneketehe” toh dia juga tak lapor ke Atuk. Akhirnya tukang warung mengambil kebijakan mengganti, meskipun mungkin diantara kami masih penasaran siapa sih si pembuat onar yang sebenarnya? Siapa sih provokatornya sehingga nasi bungkus lari dari kantong plastik putih? Entahlah.

Isya sudah lewat, hujan mulai datang. Di depan pagar Masfud datang lagi membawa sebungkus nasi. Dengan wajah memelas dia menjelaskan bukan dia yang berbuat, bukan, bukan dan bukan. Padahal Atuk nggak ada lo, nuduh dia. Apakah Masfud takut diberi rating jelek oleh Atuk? Kalau mau memperturutkan kata hati Atuk bisa saja memberi rating jelek ke penjual nasi dan Masfud. Tapi apa gunanya? Sangat dzalim kita beri peringkat untuk sesuatu yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya. Masfud nggak tau, penjual nggak tau, Atuk juga nggak tau, provokator yang merayu nasi hilang mungkin tau, cuma masalahnya kita tidak tau siapa provokator itu. Jadi win-win solution sajalah. Beri saja peringkat baik untuk semua, karena tidak baik memupuk kecurigaan. (Bogor 15.10.20)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button