In Way

Kepala Pusing Ketika Telpon Mulai Berdering

Androecia Darwis, Penulis Kolom "In Way"

Apiknews.com, In Way – Untuk merayu perpanjangan televisi berlangganan kenapa sih provider harus menelpon berkali-kali? Si pelanggan bukannya tertarik, malahan sebel jadinya. Telpon pertama dijawab dengan “baik-baik” yang intinya stop berlangganan. Rupanya tak berakhir, malah menelpon lagi providernya, lalu dijawab dengan “baik”, karena sebel kalau yang pertama baiknya dua, maka kali ini kata-kata “baik”nya tinggal satu, inti jawaban sesungguhnya sama, yaitu ogah melanjutkan berlangganan.

Sampai disini harusnya provider tahu bahwasanya tak perlu lagi menelpon. Benarkah demikian? Oh tidak Bro, provider ini seolah tak ada kapoknya, lalu datang lagi telpon yang ketiga. Andung masih punya rasa toleransi, telpon diangkat juga. Tapi dari mulai menjawab baik-baik, kemudian baik, apakah kali ini harus dijawab ketus? Ternyata toleransi Andung itu senjata makan tuan, provider tak bosan dengan rayuannya: “bla bla bla bla bla‚Ķ.” Terus saja nyerocos, pokoknya bla bla bla deh.

Provider atau si penelpon tersebut barangkali dibebani target, pokoknya jualan harus laku. Apa sajalah namanya provider, salesman, saleswoman, seharusnya membaca tutur kata psikologis lawan bicara, kalau ditelpon terus bisa saja yang terjadi adalah anti pati. Andung tak tega, komunikasi dibiarkan terbuka, harusnya Andung memblokir nomor tersebut. Tapi nyatanya Andung tidak memblokir, barangkali Andung tahu juga bahwa bagi orang yang nekat tak satu jalan ke Bukitinggi, bisa dari Kota Nopan, Bisa dari Biaro dan bisa dari Tusongka serta bisa juga dari Padang Lua. Demikian juga dengan telpon, tak satu nomor yang ada. Bisa dari nomor ganjil, bisa dari nomor genap dan bisa juga dari nomor gabungan ganjil genap.

Kesemua nomor yang tersedia tak pernah bosan menelpon Andung, hingga akhirnya si penelpon yang menyerah karena tak lagi diangkat. Untunglah sampai saat ini telpon itu tak datang lagi. Terakhir si provider sempat mengatakan jika berhenti berlangganan, maka perangkat yang ada di rumah akan mereka ambil. Namun sampai sekarang tak ada petugasnya yang datang mengambil, padahal kita juga sudah tak butuh. Kenapa ya tidak diambil? Yah bodo amatlah, itu urusan mereka. Dari pengalaman ini kita bingung, kenapa ya untuk merayu pelanggan harus diikuti dengan paksaan? Bukankah paksaan itu kontraproduktif? Teori pemasaran apa yang mereka pakai? Aneh-aneh saja, membuat orang penasaran.

Terus terang Atuk dan Andung sudah sangat jarang menonton televisi, lagian buat apa? Jadi kepada Mas and Mbak provider jangan marah ya, layar televisi sekarang rata-rata mengecil, berubah menjadi layar HP. Banyak hal yang bisa diperoleh dari HP, antara lain informasi obat-obatan. Andung pernah periksa lab, kolesterolnya tinggi. Sementara iklan obat herba di layar HP begitu menggoda, mau obat kolesterol? Gampang, tinggal nunggu COD di rumah, obat datang langsung minum dan tidak ribet.

Kemasan obat Andung menarik. Atukpun tertarik, di botolnya tertulis high blood pressure. Oalah, ini mah obat darah tinggi, Andung kan darah pendek (lawan tinggi, rendah atau pendek ya?). Kalau minum obat ini khawatir darah Andung kian pendek. Andung kaget dengan penjelasan Atuk, dia kurang hati-hati. Untungnya obat diminum baru sekali, langsung ketahuan. Katanya obat kolesterol, tapi kok obat darah tinggi? Kumaha ini neng saleswoman euy? Setelah itu Andung dapat telpon dari si Neng saleswoman penjual obat. “Ibu gimana, apakah obatnya sudah diminum? Bla bla bla and bla” Atuk lupa apa jawaban Andung, tapi so pasti dia kurang senang. Sudahlah obat salah, pake nanya-nanya lagi.

Atukpun heran, apakah zaman sudah berubah sehingga konsumen tak lagi raja? Lalu siapa yang mencopot kekuasaan raja? Hasil unjuk rasa mahasiswakah? Kekesalan itu terus berlanjut, karena tamu tak diundang itu selalu saja datang, memaksa menelpon. Oh my god, urat malunya sudah putus tus tus tus. Kali ini apakah Andung mau memblokir nomor? Percuma, nomor telpon si penelpon (bukan) gelap ini berganti-ganti meskipun Andung sudah mengatakan, anda adalah orang yang kesekian bertanya untuk hal yang sama, Dunia sudah berubah, mungkin teori marketingnya juga ikut berubah menjadi: “agar konsumen menyukai produk kita, hajar mereka dengan berkali-kali serangan informasi, tak peduli mereka kesal atau tidak yang penting telpon terus, bombardir terus, paksa”.

Mau tau apa yang Andung katakan ketika telpon terakhir datang? Ini kata Andung: “terima kasih telah mengubungi, sebelum mas menyampaikan sesuatu saya mau bicara dulu. Mas adalah orang yang kesepuluh menghubungi saya untuk menanyakan hal yang sama. Mohon maaf, saya terganggu”. Dan Andung memutus sambungan telpon. Plok plok plok, hore Andung tegas, hajar bleh. Tak perlu melayani hal-hal yang memang tidak perlu. Setau Atuk dengan ketegasan tersebut, sampai saat ini si penjual obat tak pernah lagi menelpon Andung.

Pada suatu waktu Atukpun pernah punya pengalaman yang sama dengan Andung, yaitu ketika beli madu online. Madu itu khusus untuk menyembuhkan gerd atau asam lambung, obatnya bagus sih. Tapi telponnya itu lo, bertubi-tubi. Intinya adalah pemaksaan secara halus agar Atuk beli lagi produknya, hanya saja cara memulainya yang berbeda-beda. Ngeyelnya itu lo minta ampun, padahal sudah pernah di WA: “maaf mbak, saya jangan ditelpon lagi ya”. Eh, nggak mempan. Tetap aja si doi nelpon, kesel nggak tuh? Mengingat penelpon Atuk dari nomor yang itu-itu juga (beda pengalaman dengan Andung), maka nomor itu Atuk blokir dan cerita tak lagi berlanjut, berakhirlah petualangan si Mbak penjual madu.

Telpon itu memusingkan, apakah teori pemasaran sudah berubah? Apakah konsumen tak lagi raja? Sungguh sampai saat ini tak tahu jawabannya dan Atuk harus bilang apa? Bukankah yang dilakukan penjual itu salah atau malah itu yang benar? Usia bertambah, dunia menua, jawabannya bisa macam-macam, baiknya kita akhiri saja tulisan ini. (Andro – Bogor, 25.10.20).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button