In Way

Kekhawatiran Sang Isteri

Androecia Darwis, Penulis kolom "In Way"

Hari sudah malam, beberapa waktu yang lalu Atuk dan Andung baru saja sampai di Medan, tepatnya di rumah seorang sahabat. Namanya Pak Sarumpaet, isteri beliau juga sahabat isteri Atuk. Tak hanya sahabat, tapi sudah seperti saudara, makanya tiap kali ke Medan rasanya kurang Afdhol kalau tak singgah di rumah Pak Sarumpaet. Kebetulan kami sama-sama hobi makan, kalau diperhalus mungkin bahasanya begini: “sama-sama hobi kuliner” dan tentunya juga sama-sama ‘ndut. Ada-ada saja kuliner yang kami telusuri di setiap penjuru kota Medan, termasuk menyantap Mie Aceh yang sangat terkenal itu.

Kali ini kedatangan Atuk dan Andung sudah beranjak malam, agak malas keluar untuk sekedar mencari kuliner. Lagian Pak Sarumpaet kalau tak salah juga baru saja sampai di rumahnya. Pulang darimanakah Pak Sarumpaet? Entahlah, yang jelas beliau adalah seorang yang sangat ramah kepada tamu. Pokoknya kalau sudah sampai di rumah beliau, apa saja ditawari. Dan kali ini Atuk ditawari makan malam. Ahai, situasi menjadi menarik ketika terlihat isteri beliau sedikit kaget dengan adanya tawaran suami, ada apakah gerangan?

Si Papa alias Pak Sarumpaet mengulangi tawarannya, sementara si Mama masih belum bereaksi, malah terkesan sedikit memberi sinyal kepada suami agar tak mengulangi tawaran itu. Melihat situasi yang demikian, dengan serta merta Atuk dan Andung belum mengiyakan atau menidakan tawaran dimaksud. Kemungkinan yang terjadi bisa bermacam-macam, antara lain mungkin saja si Mama masih kelelahan sehingga malas ke dapur. Kemungkinan lainnya adalah tak cukup ada persediaan di dapur, sehingga apa yang akan disuguhkan untuk tamu?

Kejadian seperti ini sebenarnya jamak terjadi dalam setiap keluarga. Ada keluarga tawarannya hanya basa-basi, sekedar menawari makan saja padahal dalam hatinya berharap sang tamu menolak tawaran. Indikasinya begini, lazimnya tamu akan menolak tawaran yang diucapkan pertama kali. Sesuai kebiasaan orang timur, tawaran akan diterima sesudah ajakan yang ketiga. Bisa juga pada ajakan yang kedua masih menolak, dan alasan klise adalah: “maaf udah, barusan makan tadi di jalan”. Kita tidak tahu apakah si tamu udah makan beneran atau hanya sekedar basa-basi. Buktinya pada tawaran ketiga, si tamu langsung saja menjawab: “baiklah uda, mantap kali ajakan uda (kareh bana baso), yuklah kita makan”.

Itukan kalau si tamu yang berbasa-basi, andai tuan rumah yang berbasa-basi maka ketika ada jawaban barusan makan. Tuan rumah langsung saja menyambar: “oh sudah makan? Baiklah kalau begitu, padahal di dapur sudah tersedia rendang, itik lada hijau dan talua barendo”. Ini benar-benar nyesek banget bagi tamu yang berharap ada tawaran kedua dan ketiga. Menu-menu nikmat itu kenapa tidak diucapkan di awal ya? Hehehehe. Kalau sekarang apa daya, tawaran sudah terlanjur ditolak. Eh, tunggu dulu. Bisa jadi itu hanya style tinggi dari tuan rumah, setelah tau ada penolakan maka dia berani mengucapkan menu hebat. Lha tadi kemana aja dia? Nokoh banget nih tuan rumah. Wkwkwkwkwkwk….

Nah kembali ke laptop, apa yang terjadi sesungguhnya malam ini di keluarga Pak Sarumpaet? Yuk kita bedah, Papa kekeuh nawarin makan, Mama keberatan. Ini adalah faktor pertama dan faktor kedua Atuk dan Andung belum bisa menangkap situasi secara clear, perut memang lapar karena sudah malam, Bu Sarumpaet terkenal jago masak, apa saja yang diolah melalui tangan Mama so pasti nikmat. Namun tetap ada kekhawatiran jika menerima tawaran Papa, siapa tau memang di rumah beliau tak ada persiapan apapun. Ribet kan? Malam itu, kami terus saja bercerita kesana kemari, suasana kian akrab. Entah bagaimana ceritanya Mama sudah di dapur, cepat sekali. Tak lama kemudian sudah ada kode dari Mama untuk segera ke meja dapur untuk makan malam.

Di meja makan sudah tersedia ikan goreng yang garing, bau ikan habis digoreng harum, baunya saja sudah sangat sedap, apalagi kalau sudah dimakan. Hanya ikan? Ya, kalau tak salah itu adalah menu tunggal. Pantesan Mama tak pakai lama di dapur untuk memasak. Atuk tidaklah lebay, malam itu, di tangan Mama satu-satunya menu itu berubah menjadi ikan goreng garing yang terlezat di dunia. Makan malam yang nikmat, perut kenyang teka-teki terjawab sudah. Kegundahan Mama terhadap Papa sepertinya bermula dari kekurangan bahan di dapur, nawarin tamu masa sih ikan goreng doang. Buahnya mana? Sayurnya mana? Kerupuknya mana. Lelaki biasanya memang tidak peka, tidak sensitif terhadap kegundahan isteri, meskipun mata isteri sudah melotot-melotit memberi sinyal, tetap saja tak peka. Semoga saja Pak Sarumpaet tak digebukin Mama dan tidak dihadiahi kata-kata mutiara khas emak-emak sepulangnya Atuk dan Andung dari rumah beliau. Qiqiqiqiqiqi …

Tapi terlepas dari itu semua kita dapat menarik kesimpulan bahwa koordinasi itu memang mahal ya. Maaf sedikit melenceng, ketika kita bicara koordinasi soal kesehatan atau ekonomi saja antara pusat dan daerah ternyata tak gampang, hasilnya malah kurang maksimal. Kalau memang koordinasi itu sulit, minimal tirulah Papa dan Mama. Mereka meski tidak berkoordinasi, hasilnya tetap indah, yaitu makan malam yang nikmat. Bravo endonesah, bravo ngeriku, semangat-semangat-semangat.

Bogor 12.09.20

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button