In Way

Celoteh Menjelang Sore

Androecia Darwis, pengisi kolom "In Way"

Apiknews.com – Hari masih siang menjelang sore, rasanya ada keinginan kuat untuk berceloteh dan Atuk mulai menulis. Dulu Atuk pernah menjadi salah seorang pengurus sebuah masjid, sayang tak banyak bisa berperan karena sehari-hari berangkat ke kantor pagi dini hari menjelang mentari muncul dan pulang sesampainya di rumah sang mentari telah menghilang. Sebenarnya pada waktu jadi pengurus ada saja gagasan yang terlintas, namun tak maksimal tersosialisasikan gegara hanya menjadi pengurus pasif. Tetapi sekedar menambah curriculum vitae ada juga baiknya lumayanlah. Paling tidak pernah tercatat sebagai pengurus, meski belum sepenuhnya dapat berkontribusi.

Yang masih teringat sampai sekarang adalah soal reward terhadap penceramah, sangat minim, dalam bahasa yang lain adalah ala kadarnya saja. Penceramah, bisa saja itu guru mengaji, ustad ataupun imam masjid, adalah manusia biasa yang terkadang mengharapkan income dari profesinya itu. Ada yang punya bisnis lain memang, tetapi kan tidak semua. Datang naik angkot, panas kepanasan, hujan kehujanan, atau jika punya kendaraan pribadi bisalah naik sepeda motor. Hemat saya mereka memang kerja dakwah, tapi DKM mbok ya mestinya punya perasaan juga, berilah reward yang layak.

Reward alakadarnya itupun sepertinya terkadang ada yang dibalut dengan akad yang tidak jelas. Pas guru ngajinya pulang diselipin amplop, sembari berkata buat uang rokok atau uang angkot pak guru. Ada dua yang yang mesti diperbaiki di situ, yaitu pembelian rokok dan pemberian rokok, beli dan beri. Adalah aneh jika di sebagian negara rokok diharamkan, dan di semua negara dokter melarang merokok, kita malahan nyuruh guru ngaji beli rokok.

Berikutnya adalah masalah pemberian, bukankah maksud pemberian itu adalah untuk mensejahterakan guru ngaji itu? Lalu kenapa akadnya harus rokok atau ongkos angkot? Pak guru yang jujur dan paham akan arti sebuah akad akan memberikan semua isi amplop tadi untuk pak sopir angkot. Dalam hal ini pak guru benar, bukankah akadnya memang demikian? Akhirnya pemberian itu menjadi sia-sia karena salah sasaran, makanya berhati-hatilah dengan akad. Your word is your bond.

Apalagi jika niatnya adalah memberikan bantuan untuk para guru ngaji, para dai yang terdampak pandemi, salah-salah kata bisa jadi salah sasaran. Jika mengamati pemberitaan yang viral di media masa, kalau tidak salah dalam penilaian subjektif Atuk yang paling banyak disorot adalah tukang ojek, dan mereka yang paling terlihat sebagai salah satu profesi yang layak mendapat bantuan. Tak salah sih, karena ojek memang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, ada ketergantungan disitu. Bagaimana dengan profesi lain? Guru ngaji misalnya, dibandingkan tukang ojek tak begitu banyak diberitakan, padahal mereka juga terdampak.

Dalam situasi pandemi kali ini, semakin memantapkan hati kita bahwa Allahlah pemilik segala-galanya. Dikatakan pula bahwa ayat-ayat suci, adzan dan mulut-mulut yang berdzikir sangat berperan dalam menjauhkan kita dari marabahaya, termasuk penyakit. Kalau kita tilik ke belakang, siapa yang membawa kita mendekat dengan Allah? Salah satunya guru mengaji, lalu ada sebagian di antara mereka yang terdampak. Maka selayaknyalah kita ulurkan bantuan kepada mereka, untuk individu-individu yang mengagumkan ini.

Berjuang tanpa meminta-minta, berjuang tak kenal mengemis, tetap semangat menjalankan dakwah, tetap mengabdi di antara tekanan yang bertubi agar bisa survive di tengah pandemi. Di bulan yang menyejukan hati, kegiatan indah yang pasti tak merugi, adalah berjanji untuk berbagi. Semua kita yakin you will definitely do what you have promised.

(Bgr-Adc, 07.05.20)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button