In Way

Ada Galau Di Seberang Sana

Androecia Darwis, pengisi kolom "In Way"

Apiknews.com – Wajah-wajah galau dan rusuh itu mengular antri di depan ATM, sebagian sudah sangat tua. Operasi bank ditutup, ini perintah Alexis Tsipras sang Perdana Menteri. Perekonomian Yunani sedang diambang kebangkrutan, semua orang diliputi kecemasan. Apakah negara ini akan tetap eksis atau gagal sama sekali, adalah hasil dari konsekuensi logis sebuah kebangkrutan.

Kebangkrutan tidaklah datang tiba-tiba, biasanya didahului oleh tata kelola yang sengkarut, korupsi dan kegemaran berhutang yang salah arah. Hutang yang sejatinya untuk mendongkrak pembangunan, ternyata menjadi liar tidak menyelesaikan masalah dan justru semakin menumpuk, Ketika sampai di titik nadir ceritanya sudah sangat terlambat, ingin berbenah tetapi tak mampu, ibarat menarik kain sarung. Ditarik ke atas lutut kelihatan, dan jika ditarik ke bawah maka pusar yang terlihat. Apa boleh dikata, nasi sudah jadi nasi goreng.

Masing-masing elemen di masyarakat sudah saling tidak percaya, baik vertikal maupun horizontal. Sebagai contoh, ketika pemerintah mengatakan ingin menutup operasional bank, masyarakat menganggapnya tipu muslihat, and so on and so on. Lalu selesaikah masalahnya? Oh no, yang namanya penyakit dalam dunia tanpa batas ini akan selalu mencari mangsa sekitar. Ketika Yunani terkena flu, Itali, Irlandia, Portugal dan Spanyol sempat batuk-batuk. Tentunya sang penyebar virus menjadi sangat dibenci oleh para tetangga. Sehingga kalau kita terpuruk yang ada Cuma ejekan, tak ada kawan yang setia, tak ada kawan ‘tuk berbagi duka.

Saya jadi teringat dengan Turki yang sebelumnya sangat menginginkan tergabung dalam Zona Euro, memohon-mohon ingin masuk sebagai anggota dalam kawasan Masyarakat Ekonomi Eropa, meski kita tahu wilayah Turki yang tergabung ke Eropa itu hanyalah secuil Istanbul, sebagian besar justru berada di Asia. Apapun persiapan Turki agar bisa masuk ke dalam kelas terhormat di Eropa tidak pernah diterima, al hasil jadilah Turki sebagaimana Turki yang kita kenal dewasa ini. Tidak bergabung di Zona Euro membuat Turki ternyata sebuah berkah, kita tidak tahu rahasia Tuhan dibalik itu. Saat ini Turki punya nilai mata uang yang relatif kuat, minimal tidak terlalu gonjang-ganjing. Andai saja Turki tergabung di dalam Zona Euro, maka kemungkinan Turkipun akan terkena virus batuk-batuk itu.

Coba amati sekarang apa yang terjadi, Yunani akan disingkirkan dari Zona Euro yang dulu sangat disanjung-sanjung. Memohon perpanjangan bail out tidak dikasih. Alamak sedihnya kita pernah mengalami krisis di tahun 1998, barisan orang mengantri di ATM juga pernah kita alami dan kita juga gemar berhutang, sangat gemar malah. Kisah sedih Yunani bisa menjadi suatu pengalaman berharga. Agar tiada copy paste kegalauan Yunani, kita bisa berkaca dari kegalauan tersebut karena jujur saja sesungguhnya kita punya beberapa indikator yang sama sebagai pemantik kegalauan dimaksud. Semoga badai Yunani tak sempat singgah di nusantara tercinta.

Androecia Darwis
Jakarta, 30 Juni 2015

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button